Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ramadhan ke Dua, Suasana Duka yang Penuh Luka

Ibu, Aku rindu

Ramadhan ke Dua, Suasana Duka yang Penuh Luka
- Ada yang tidak bisa Kita lakukan untuk Ramadhan kali ini. Tak ada kumandang takbir yang memanggil untuk segera tarawih. Ramadhan kali ini benar-benar berbeda dari biasanya.

Malam ini dengan sedikit tersedu, Aku terdiam dalam sendu malam. Terjebak di perantauan sendiri, di kos pun sendiri. Keluar hanya bisa beli dan bungkus. Sedangkan untuk pesan via Gojek dan lainnya. Aku sudah kehabisan dana untuk itu.

Beberapa Aku harus melakukan sterilisasi mandiri sesampainya di kos. Cuci tangan dan mandi serta ganti baju. Sebelumnya Aku lebih memilih laundry untuk mencuci baju. Tapi sekarang sudah tidak lagi, Banyak hal yang membuat Aku urung menggunakan jasa laundry ini.

Pertama alasan kesehatan dan alasan klasik seperti kehabisan dana. Miris memang, Tapi setidaknya ini membuat keuangan ku sedikit melonggar akibat pandemi ini. Tapi sayang, Keahlianku dalam pakaian hanyalah dalam memakainya sedangkan untuk mencucinya. Aku tidak bisa mencuci dengan baik, Karena tidak terbiasa dan juga gak pernah hehe.

Kapan pandemi ini segera berakhir? Aku sendiri tidak yakin. Melihat kegiatan ku yang bekerja di Mini market, Kelakuan warga 62 dan yang luar biasa. Luar biasa tidak bisa di atur dengan baik.

Ya Allah, Aku rindu Ibu di kampung. Ibu pasti sangat cemas dengan keadaanku di sini. Ibu pasti sangat khawatir dengan keadaanku. Ibu tahu betul Aku gak biasa nyuci dan tidak pernah nyuci.

Tapi beberapa kali melakukan kontak lewat telepon. Aku selalu berbohong pada Ibu kalau Aku sudah bisa mencuci sendiri. Ibu tertawa dan Aku tahu pasti kalau tawa Ibu mengandung rasa cemas yang sangat.

Ah Ibu, Doakan selalu anakmu ini. Anakmu juga akan selalu berdoa untuk kesehatan Ibu. Tuhan, Beri selalu perlindunganmu pada Ibuku yang sangat amat ku cintai. Selalu jaga Aku, dalam setiap waktu dan langkahku. Amin, Allahumma Amin. Semoga Ramadhan ke Dua, Suasana Duka yang Penuh Luka ini segera berlalu.

4 comments for "Ramadhan ke Dua, Suasana Duka yang Penuh Luka"

  1. Stay strong.. You are not alone, we can pass this "situation" together..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Kak, Di luaran sana ternyata masih banyak yang lebih parah dari Aku. Aku Alhamdulillah masih bisa makan meski dengan sehemat mungkin.

      Dan yang lebih parah mereka di Garda depan, Orang-orang kesehatan. Semoga cepat berlalu. Terimakasih sekali lagi semangatnya Kak.

      Delete
    2. Kumbal mas,... Tetep semangat ya walaupun situasinya gak ngenakin,semoga badai cepat berlalu dan kita bisa berkumpul kembali dengan orang" tercinta

      Delete
    3. Amin Mba. Semoga secepatnya kembali normal.

      Delete

Berlangganan via Email